“Ketika saudara-saudara kita di NTT mengalami bencana, kita semua harus merasa terpanggil untuk membantu. Inilah makna gotong royong yang sesungguhnya. Bersama-sama meringankan beban saudara kita tanpa melihat perbedaan daerah dan latar belakang,” ujarnya.
Juru Bicara Soekarno Cup yang juga legenda Timnas Indonesia, Anang Maruf, menilai perpaduan antara pembinaan sepak bola dan aksi kemanusiaan memberikan pesan penting bagi para pemain muda.
Menurut bek kanan tangguh Timnas Indonesia pada masanya itu, 400 pemain dari 16 provinsi yang mengikuti Soekarno Cup tidak hanya membawa mimpi menjadi pesepak bola profesional.
Mereka juga mendapatkan pelajaran mengenai arti menjadi bagian dari masyarakat dan bangsa yang lebih besar.
“Anak-anak ini belajar bahwa menjadi pemain sepak bola bukan hanya soal kemampuan teknik. Ada nilai tanggung jawab, persaudaraan, dan kepedulian. Ketika mereka ikut bergotong royong membantu korban gempa di NTT, mereka sedang belajar menjadi manusia Indonesia yang sesungguhnya,” kata Anang.













