Beban terhadap keluarga juga tidak ringan, dimana semuanya nyaris membayar dengan berbagai dalih dan motif. Ke WC fasum, parkir, melintas di perempatan atau pertigaan, lewat jalan tol, kemacetan, berbagai jenis perijinan sampai pada pasang papan nama harus membayar. Juga membayar berbagai keperluan sekolah yang sifatnya tidak elementer, seperti piknik, latihan sampai sumbangan sukarela.
Di kampung ada iuran sampah, keamanan, kematian, dawis sampai sumbangan perayaan dan kegiatan sosial lainnya.
Kedua, salah dalam pentasyarufan dana bantuan sosial dan subsidi. Instrumen terkait terasa tidak integratif, kolaboratif, sinergis dan tidak koordinatif. Input, prosesing dan output tidak terverifikasi secara baik.
Minimal ada dua cara pentasyarufan, yaitu langsung, berarti sesaat dan tidak langsung, berarti berjangka, yang berorientasi pada pemberdayaan (emphowering). Yang terjadi sekarang ini cenderung sesaat atau habis pakai dan tidak berorientasi pada pemberdayaan.












