Wakil Bupati Trenggalek, Syah Muhammad Natanegara menambahkan bahwa, FJTT juga berdampak positif bagi perekonomian lokal. “Setiap festival selalu membawa berkah. Pedagang makanan, pengrajin aksesoris jaranan, hingga sektor wisata ikut merasakan manfaat. Jadi melestarikan budaya bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga menggerakkan perekonomian rakyat,” jelasnya.
Suasana pembukaan berlangsung meriah. Dentuman gamelan, tabuhan kendang, dan gerakan magis para penari jaranan membuat penonton larut dalam atmosfer budaya Jawa Timur. Sorot lampu di panggung utama menambah kesan dramatis, menciptakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Trenggalek yang sukses mempertahankan salah satu identitas budayanya.
Bagi para seniman, festival ini bukan sekadar panggung unjuk kemampuan, melainkan juga ajang silaturahmi. “Kami senang bisa ikut serta. Selain melestarikan budaya, ajang ini juga mempererat persaudaraan antar-daerah,” ungkap salah satu peserta asal Blitar.













