Di samping itu, pakar kebijakan publik Agus Pambagio menilai, keputusan ini tepat karena FABA mempunyai banyak manfaat sehingga bisa dijadikan sebagai teknologi baru.
“Sebelumnya FABA itu jumlahnya banyak dan sulit dikendalikan sehingga dimasukkan ke dalam kategori limbah B3. Tetapi seiring berkembangnya teknologi, FABA ternyata bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang berguna,” ujar Agus dalam Polemik Trijaya, Selasa, (16/3) lalu.
Apa itu FABA?
Coal ash adalah istilah umum untuk beberapa jenis limbah yang tersisa di pembangkit listrik batubara, yang biasanya mengandung sejumlah zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Coal ash merupakan kumpulan residu yang dihasilkan selama pembakaran batubara yang terbagi atas fly ash dan bottom ash.
Fly ash adalah jenis abu batubara yang paling ringan — sangat ringan sehingga “terbang” ke atas tumpukan pembangkit listrik. Filter di dalam tumpukan menangkap sekitar 99 persen abu, menariknya adalah dengan muatan listrik yang berlawanan. Fly ash dapat didaur ulang. Partikel halus mengikat dan mengeras, terutama bila dicampur dengan air, menjadikannya bahan yang ideal untuk beton dan brick wall. Versi abu batubara dari produk ini sebenarnya lebih kuat daripada yang terbuat dari virgin materials.













