“Sering kali ada gap antara bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri dan bagaimana orang lain melihatnya. Gap ini bisa menjadi sumber stres, tapi juga peluang belajar. 360-Degree Feedback membuka ruang dialog konstruktif untuk menutup gap tersebut,” tambah Kartika.
Bagi perusahaan, manfaatnya tidak kalah besar. Data dari 360-Degree Feedback bisa digunakan untuk membuat keputusan pengembangan SDM yang lebih akurat, dari pelatihan hingga promosi.
Proses ini juga membantu pimpinan mengidentifikasi talenta potensial untuk suksesi jabatan, sekaligus memastikan bahwa perilaku karyawan sejalan dengan nilai dan budaya organisasi. Tidak hanya itu, feedback yang beragam memberi peluang bagi perusahaan untuk menumbuhkan agen-agen perubahan: individu yang tidak hanya kompeten secara teknis, tapi juga mampu membawa pengaruh positif di tim dan organisasi.












