Pada kebanyakan tokoh, sebuah prestasi kerap berkait dengan lika liku kehidupannya di masa lalu. Termasuk seorang Erwan Setiawan. Namun untuk menjadi politisi, pimpinan partai dan pimpinan wakil rakyat di kotanya, bagi Erwan adalah hal yang tak pernah terpikirkan.
Erwan bercerita, masa kecilnya banyak dihabiskan di kawasan Kiara Condong. Erwan memang masih keturunan Mbah Malim generasi ke-10. Kala bocah, Erwan bercita-cita ingin menjadi ABRI atau dokter. “Rasanya itu cita-cita standar saja. Pasti karena masih kecil tidak pernah berpikir jadi jadi politikus,” ucap Erwan.
Hingga duduk di kursi pimpinan DPRD Kota Bandung saat ini, menurut Erwan, semua berjalan apa adanya. “Saya mencoba mensyukuri hidup dan mensyukuri apa yang kita dapat hari ni. Seperti air mengalir saja. Prinsipnya ingin bermanfaat bagi orang lain,” kata Erwan.
Menelusuri riwayat hidupnya, aktivitas berorganisasi Erwan di awali sejak dari bangku SMP dan SMA. Selain aktif di OSIS, Erwan juga aktif di karang taruna di lingkungan tempat tinggalnya. Hingga 1988 – 2002, Erwan menjabat sebagai ketua karang taruna. Erwan pun pernah pula menjadi anggota AMS, namun ketika itu fokus aktivitas lebih diutamakan pada pendidikan.
Erwan memiliki hobi olah raga, terutama beladiri dan sepakbola. Dalam bidang beladiri, Erwan pernah dipercaya sebagai Ketua Tarung Drajat Kota Bandung. Terhadap dunia sepak-bola ini, dari kecil sudah dididik orang tuanya untuk mencintai PERSIB Bandung. Sering ia di bawa orang tua nonton pertandingan PERSIB di stadion. Pendek kata, keluarga Erwan adalah pencinta dan penggemar fanatik PERSIB Bandung. Di dalam keluarganya mengalir darah biru PERSIB.
Pada tahun 1983, 1984, dan 1985, ketika PERSIB mengalami masa-masa kejayaan di perserikatan, saking cintanya kepada PERSIB, pernah selama dua minggu, ia dan keluarga diboyong sang ayah ke Jakarta dan menginap di Hotel Kartika Chandra. Saat itu PERSIB masuk babak 8 besar, kemudian 4 besar dan menjadi juara. Sampai-sampai sekolah harus di dug-dag Jakarta – Bandung. Itu semua demi menyaksikan klub kesayangannya berlaga di Stadion Utama Senayan Jakarta.
Dari tahun 1997 hingga 2003 pernah bekerja sebagai karyawan di PT Altekindo Jejaring Nusantara (AJN) yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Kemudian tahun 2003 pindah ke Jakarta, memegang dan meneruskan kendali perusahaan orang tua. Karena di dalam keluarga, Erwan adalah anak laki-laki seorang. Ini berlangsung hingga tahun 2006.
Bagi Erwan, ada satu orang yang menjadi sumber inspirasi dirinya terjun ke panggung politik. Dia adalah Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden RI dan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Tokoh itu pula yang dikagumi Erwan karena kesopanan dan kewibawaannya. “Saya benar-benar mengagumi beliau, bukan karena saya ketua DPC Partai Demokrat, tapi sebelum itu pun saya memang sudah mengagumi sosok beliau, sebagai sosok pribadi yang memang layak memimpin.” ungkap Erwan.
Keluarga Erwan, terutama sang ayah, memang memiliki kedekatan dengan Partai Demokrat, termasuk sosok SBY. Ayahnya punya hubungan baik dengan TNI, terutama dengan Polisi Militer. Hal ini karena kedekatan sang ayah dengan Iding Aliudin (Mandan Wadan Puspom). Sosok Iding satu angkatan dengan SBY di Akademi Militer.
Tahun 2002, waktu itu Iding meninggal dunia, yang menyerahkan jenazahnya adalah SBY, karena mereka satu angkatan tahun 1973. Nah, ketika itulah ayah Erwan yang menerima jenazahnya. Karena ayah Erwan dan Iding sudah seperti adik kakak. Suatu ketika, ada seseorang masih satu angkatan dengan SBY, datang ke rumahnya menawarkan untuk masuk Partai Demokrat.
Ketika itu dijelaskan, bila Partai Demokrat adalah partai yang dibentuk SBY dan SBY akan maju sebagai Calon Presiden pada pemilu tahun 2004. Sang ayah kala itu ditawari untuk memegang Partai Demokrat wilayah Jawa Barat. Namun ayahnya menolak, sebab waktu itu tengah sibuk memegang ormas sebagai penasehat dan pelindung. “Ayah saya tidak bisa melepaskan posisi itu. Juga karena memang kurang tertarik terjun dalam bidang politik,” tutur Erwan.
Meski ayahnya menolak, namun ia menawarkan kepada Erwan untuk belajar berpolitik. Maka pada tahun 2006, Erwan masuk Angkatan Muda Demokrat Indonesia (AMDI) dan duduk di jajaran pengurus. Karena memiliki kedekatan moril dengan partai yang didirikan SBY itu, keluarga Erwan sering mendukung partai itu terutama saat menjelang pemilihan umum.
Tahun 2006, Partai Demokrat Jawa Barat mengadakan musyawarah daerah. Saat itulah nama Erwan masuk dalam jajaran pengurus sebagai Bendahara Partai Demokrat Jawa Barat. Seiring perjalanan waktu, Erwan semakin bergiat di Partai Demokrat. Hingga suatu saat, Erwan disokong rekan-rekan Pengurus Anak Cabang (PAC) Kota Bandung, yang aktif di AMDI untuk memimpin Partai Demokrat Kota Bandung.
“Saya waktu itu mengatakan harus banyak belajar dulu, tapi kawan-kawan menyarankan agar sambil berjalan saja dan bertahap. Sebab nantinya akan ba-nyak dibantu dan didukung semua rekan,” kata Erwan. “Saya katakan kalau memang saya dipercaya, saya siap. Akhirnya datang rekan- rekan memberikan dukungan, dan saya maju. Tanggal 18 Januari 2007, saya terpilih jadi Ketua DPC Kota Bandung. Setelah itu ya mengalir saja sampai sekarang.”
Erwan mengaku tak memiliki target pribadi dalam bidang politik. Sebagai pimpinan organisasi partai ditingkat cabang, Erwan hanya ingin Partai Demokrat tumbuh dan besar. Kemudian bisa memenangkan kembali pemilu yang akan datang. Jadi tidak hanya numpang lewat saja sebagai partai baru.
“Sekarang saya dipercaya dapat amanah sebagai Ketua DPRD Kota Bandung, ya saya jalankan saja dengan penuh amanah. Dengan cara seperti ini, nanti masyarakat akan melihat sendiri bagaimana kepemim-pinan saya. Jadi saya tidak ngotot ingin menjadi tokoh penting, kita lihat saja dan mengalir,” katanya.
Sebagai Ketua Partai Demokrat, Erwan hanya ingin partai ini menjadi besar. “Banyak orang yang menginginkan jabatan ketua partai, hanya ingin mencalonkan diri jadi kepala daerah. Kalau saya sebaliknya, saya ingin membesarkan Demokrat. Jadi pada prinsipnya saya tidak punya ambisi pribadi ke arah itu. Sebab kalau tidak berhasil yang ada nantinya kekecewaan. Sekarang ini ya nikmati sajalah. Secara pribadi sebenarnya lebih nikmat menjadi pengusaha,” tutur Erwan. (Eko/Bud)











