Bandung, Bedanews.com-
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengungkapkan bahwa fenomena ekonomi takjil di bulan Ramadhan. Ia bercerita setiap sore menjelang magrib, jalan-jalan kecil di Indonesia berubah wajah dengan lapak-lapak sederhana yang menjual takjil.
Sebut saja Ibu Siti, warga pinggiran Bandung, contohnya. Dengan modal awal hanya Rp 200.000, ia bisa memperoleh omzet Rp 500.000 – Rp 700.000 per hari. Penghasilan ini bukan untuk gaya hidup, melainkan untuk membayar sekolah anak, cicilan motor, dan kebutuhan dapur.
Fenomena Ekonomi Takjil
Menurutnya, fenomena Ibu Siti adalah potret ribuan pelaku ekonomi mikro di Indonesia. Ramadhan menciptakan ruang ekonomi sementara yang sangat hidup, dengan pelaku utama ekonomi takjil berasal dari kalangan perempuan.













