YOGYAKARTA || Bedanews.com – Dusun Kandri tak pernah benar-benar tidur lelap setiap medio Agustus. Namun tahun ini, ada desir angin yang berbeda di padukuhan yang memeluk bukit-bukit kapur Kapanewon Girisubo, Gunungkidul itu. Di antara deretan pepohonan yang meranggas khas kemarau, sembilan pasang kaki muda melangkah lincah, membaur bersama peluh warga.
Mereka adalah Mahasiswa KKN Kelompok 4 STAI Yogyakarta. Di bawah koordinasi Albi, sang ketua kelompok yang kerap melempar senyum semringah, sembilan mahasiswa ini melebur dalam riak kehidupan warga Kandri. Tak ada jarak, tak ada rasa canggung.
Cerita bergulir sejak matahari baru saja bangkit pada Ahad pagi, 16 Agustus 2026. Albi dan kawan-kawan menyingsingkan lengan baju untuk agenda kerja bakti bersih dusun. Bersama warga, mereka menyapu sudut-sudut jalan setapak, membersihkan pekarangan, dan merapikan sisa-sisa kemeriahan babak penyisihan lomba Kemerdekaan. Siang harinya, ketegangan manis membuncah di balai dusun saat sorak-sorai anak-anak dan gelak tawa para ibu membakar semangat para finalis lomba 17-an. Kerja keras seharian itu ditutup dengan napas lega; dusun bersih, gelak tawa membekas.
Esok harinya, Senin, 17 Agustus 2026, irama Dusun Kandri mencapai puncaknya. Hari itu langka: peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI berimpitan langsung dengan Tradisi Rasulanโpesta panen adat setempat yang disakralkan. Pagi hari diawali dengan hidmat. Seluruh warga dan mahasiswa berkumpul mengenakan pakaian terbaik mereka untuk melangsungkan Upacara Bendera 17 Agustus. Di bawah kibaran Sang Merah Putih yang memotong langit biru Gunungkidul, rasa haru menyatu dalam keheningan yang syahdu.
Tanpa jeda lama, kesyahduan itu bertransformasi menjadi pesta budaya. Tradisi Rasulan dimulai. Gunungan hasil bumi diarak, doa-doa rasa syukur dipanjatkan atas limpahan rezeki, dan kenikmatan makanan lokal disantap bersama. Momen ini menjadi ruang perjumpaan yang hangat, tempat nilai keagamaan dan kebudayaan lokal berkelindan tanpa sekat.
Kerja telaten sembilan mahasiswa ini tentu tak berjalan di ruang hampa. Ada gairah bimbingan dari Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I. selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang tak henti memberikan arahan bijak dari jauh maupun dekat. Di tapak lokal, Ibu Nur Harningsih, Dukuh Kandri yang enerjik, menjadi pengayom utama. Beliau membuka pintu padukuhan lebar-lebar, mengajak seluruh warga dari yang sepuh hingga yang muda untuk menyokong penuh tiap langkah adik-adik mahasiswa.
“Kehadiran anak-anak KKN buat Kandri makin hidup. Mereka bukan cuma menjalankan tugas, tapi sudah seperti keluarga sendiri,” tutur seorang warga di sela-sela bancakan Rasulan.
Bagi sembilan mahasiswa STAI Yogyakarta, dua hari di pertengahan Agustus itu bukan sekadar gugur kewajiban SKS. Di tanah Kandri yang bersahaja, mereka belajar tentang arti pengabdian yang sesungguhnya: menyatu dengan rakyat, merawat tradisi, dan merayakan kemerdekaan dalam kebersamaan yang hangat. (MRM/Red)













