Karena AI, robot atau mesin tidak memiliki jiwa, rasa, hati dan imajinasi. Pemimpin transformatif yang lintas budaya adalah pemimpin bagi manusia sebagai aset utama bangsa.
Bisa saja AI, robot atau mesisn jauh lebih cerdas dari manusia namun kebijaksanaan dalam kebijakannya bisa dipertanyakan atau diperdebatkan.
Apakah manusia tidak sarat dengan kepentingan? Misalnya sarat dengan penyimpangan, sarat dengan penyalah gunaan kewenangan, sarat dengan kekejaman (homo homini lupus), sarat dengan ketidak adilan dsb, sedangkan AI, robot atau mesin tidak. Manusia memiliki akal budi, kebebasan, kemerdekaan memilih yang ” pantas dan benar, layak dan menyelamatkan”. Sedang AI, robot, mesin itu tidak ada. Sesuai programnya sesuai apa yang dikembangkannya itulah kebijakannya, yang bisa saja pukul rata atau digeneralisir. Banyak pekerjaan yang hilang tergantikan AI, robot atau mesin dengan kualitas dan kuantitas yang jauh dari karya manusia yang bisa dikatkan hand made.













