Empiriknya, pers berfungsi sebagai pengawas kekuasaan, penyalur suara kelompok rentan, dan ruang dialog kebangsaan. Refleksinya, justru di era AI peran pers sebagai penopang demokrasi semakin vital. Pers menjaga agar teknologi tidak menggantikan akal sehat publik, melainkan memperkuatnya.
Singkatnya di era AI, pers dihadapkan pada pilihan mendasar: sekadar mengikuti mesin atau tetap menjaga nurani. Jawaban atas tiga pertanyaan di atas menegaskan satu hal: pers bermartabat lahir dari integrasi teknologi dengan etika, profesionalisme, dan tanggung jawab demokratis. Selama pers setia pada nurani publik, ia akan tetap menjadi pilar peradaban bukan korban disrupsi. Wallahu A’lam.***













