Oleh : Prof.Dr.Hj Lilis Sulastri.,S.Ag.,MM.,CPHRM.,CHRA
Ritual Kecil
Di setiap sudut ruang tamu saat Lebaran, ada sebuah koreografi yang berulang, saat tangan merogoh saku atau dompet, amplop warna warni pun berpindah tangan, dan senyum malu malu dari sang penerima. Salam tempel atau angpao Lebaran sering kali dianggap sebagai tradisi remeh-temeh untuk menyenangkan anak-anak. Namun, dalam kacamata ekonomi sosial, hal tersebut menjadi instrumen redistribusi kekayaan paling purba yang masih bertahan di era algoritma. Di balik nominalnya, salam tempel adalah simbol transfer energi ekonomi dari mereka yang mapan di pusat pertumbuhan perkotaan menuju mereka yang sedang tumbuh di akar rumput pedesaan. Dan seiring dengan penetrasi teknologi, ritual salam tempel sedang mengalami dekonstruksi makna yang dalam. Kita tidak lagi sekadar melihat perpindahan uang, melainkan pergeseran struktur sosial yang dipicu oleh digitalisasi dan ekspektasi status
Antara The Gift dan Conspicuous Consumption
Secara sosiologis, salam tempel dapat dibedah melalui teori Marcel Mauss dalam bukunya The Gift. Mauss berpendapat bahwa tidak ada pemberian yang benar-benar ‘gratis’. Setiap hadiah membawa kewajiban untuk membalas (reciprocity), baik dalam bentuk materi di masa depan maupun dalam bentuk pengakuan status saat ini. Di sisi lain, salam tempel sering kali terjebak dalam Teori Veblen tentang Conspicuous Consumption. Bagi sebagian kelas menengah baru, jumlah uang yang dibagikan bukan lagi soal kemampuan finansial, melainkan soal ‘pameran kemampuan’. Besaran nominal salam tempel menjadi proksi atas kesuksesan karier di perantauan, sehingga nilai ibadah sering kali berhimpit dengan kebutuhan akan validasi sosial yang haus pengakuan. Kita tidak lagi memberi karena ingin berbagi, tapi memberi karena takut dianggap gagal di mata kerabat.
Dari Simulakra hingga Masyarakat Transparansi
Filsuf Jean Baudrillard mungkin akan melihat salam tempel digital sebagai sebuah Simulakra yakni sebuah salinan dari kenyataan yang kehilangan aslinya. Ketika uang tidak lagi berbentuk fisik, dan menjadi tanda (sign) semata. Nilai nominal menjadi lebih penting daripada nilai kehadiran. Sementara itu, Byung-Chul Han dalam The Transparency Society mungkin akan mengkritik bagaimana digitalisasi salam tempel menghilangkan kerahasiaan dalam memberi. Dalam tradisi lama, tangan kanan memberi tanpa diketahui tangan kiri. Namun di era media sosial, momen pembagian salam tempel sering kali diunggah menjadi konten. Kebaikan dipaksa menjadi transparan demi konsumsi publik, yang pada gilirannya menghancurkan nilai spiritualitas dari tindakan berbagi itu sendiri.













