Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Sebuah video pendek viral pekan lalu memperlihatkan seorang anak laki-laki merayakan kelulusannya. Di kanan-kirinya berdiri kedua orang tua yang tersenyum lebar. Secara visual, keluarga itu lengkap—bahkan tampak harmonis. Namun, di kolom komentar, sang anak menuliskan kalimat dingin yang menyayat: “Bapak ada di foto, tapi tak pernah ada di kepala dan dada saya.”
Potret tersebut adalah representasi telanjang dari fenomena fatherless country yang mengintai Indonesia. Indonesia kerap dijuluki sebagai negara tanpa ayah, bukan semata karena secara fisik banyak ayah yang wafat atau bercerai, melainkan karena absennya kehadiran psikologis dan emosional (emotional fatherlessness). Ayah hadir sebagai penafkah material, namun menjadi “sosok asing” (phantom father) di ruang keluarga.
Krisis ini berakar dari konstruksi budaya patriarki yang keliru dalam memotret peran pengasuhan. Dalam literatur Barat klasik, sosiolog Jerman Max Weber dalam Wirtschaft und Gesellschaft (1922: 604) telah lama memetakan bagaimana otoritas patriarkal tradisional memisahkan domain domestik-afektif dari domain publik-rasional. Implikasinya bertahan hingga hari ini: ayah dituntut menjadi penguasa ekonomi, sementara urusan emosi anak sepenuhnya dilimpahkan kepada ibu.
Gaya pengasuhan yang timpang ini berakibat fatal secara psikologis. Peneliti asal Inggris, Michael E. Lamb, dalam bukunya The Role of the Father in Child Development (John Wiley & Sons, 2010: 98), menegaskan bahwa keterikatan emosional ayah (paternal attachment) memiliki jalur perkembangan yang unik dan tidak bisa digantikan oleh ibu. Anak yang kehilangan kehangatan emosional ayah cenderung mengalami kerentanan regulasi emosi, krisis identitas, hingga masalah relasi interpersonal saat dewasa.
Jauh sebelum diskursus psikologi modern berkembang, tradisi peradaban Islam sejatinya telah memberikan kritik tajam terhadap pengasuhan yang mengabaikan dimensi emosional. Cendekiawan Muslim Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam karya klasiknya Tuhfat al-Mawdud bi Ahkam al-Mawlud (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1983: 229) menekankan bahwa kerusakan kepribadian anak mayoritas bersumber dari kelalaian ayah (ihmal al-abb) yang hanya berfokus pada pemenuhan fisik tetapi mengabaikan pendidikan jiwa dan komunikasi afektif.
Uniknya, catatan sejarah kolonial pun merekam jejak krisis pengasuhan ini di Tanah Air. Peneliti Belanda, C. Snouck Hurgronje, dalam studi etnografinya De Atjehers (Landsdrukkerij, 1893: 312), mengamati bagaimana struktur sosial kultural di beberapa wilayah Nusantara menempatkan ayah pada posisi periferal dalam urusan rumah tangga, di mana pengasuhan anak secara dominan diserahkan pada jaringan keluarga perempuan.
Mengapa fenomena ini kian masif di era kekinian? Kapitalisme modern dan budaya hustle menormalisasi ketidakhadiran ayah. Menghabiskan waktu 12 jam di kantor dianggap sebagai bentuk devosi tertinggi seorang ayah, sementara meluangkan waktu 15 menit untuk mendengarkan curhatan anak dianggap sebagai “kemewahan” atau bahkan kelemahan.
Indonesia tidak kekurangan laki-laki yang menjadi ayah, tetapi kita mengalami krisis laki-laki yang berani menjadi “pengasuh”. Sudah saatnya kita meruntuhkan mitos bahwa tugas ayah selesai di meja kasir. Tanpa keberanian para ayah untuk mengulurkan kehangatan dan membuka ruang dialog emosional, kita akan terus membesarkan generasi yang kenyang secara fisik, namun kelaparan jiwa.***
Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).













