BANDUNG, BEDAnews
Keinginan untuk mempunyai buku dengan bendera sendiri, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada perjuangan panjang yang harus dilakukan untuk mewujudkannya. Setidaknya hal itu dialami seorang penulis Bandung Dewi Iriani. Berikut ulasannya.
Ambisi ingin mempunyai buku dengan bendera sendiri adalah ambisiku. Tetapi ternyata tidak mudah untuk menggapai semua itu. Menembus penerbit mayor tidak semudah membalikkan telapak tangan. Maka dia memutuskan untuk mencoba menerbitkan buku di penerbit indie. “Tetapi dana yang terbatas membuat aku mendapat fasilitas yang terbatas juga. Salah satunya adalah desain covernya yang sederhana,” kata Dewi, Sabtu (5/1).
Dia menyadari sepenuhnya bahwa selain kualitas isi buku, harus juga memperhatikan unsur lainnya agar penjualan bukunya laku. Diapun akan membuat sinopsis promo yang memikat. Lalu akan gencar menerapkan berbagai strategi marketing via internet.
“Semuanya untuk satu tujuan bukuku akan semakin banyak dibaca orang. Tetapi aku pun menyadari bahwa ada satu pemikat lagi yang tak kalah pentingnya. Itulah cover buku,” ulasnya.
Bagi Dewi, cover buku itu harus mencerminkan isinya. Sudah pasti harus kelihatan bagus. Utamanya bisa menarik perhatian orang yang melihatnya. Tetapi karena pelayanan yang terbatas, sering hasilnya malah sederhana. Kadang dia berpikir sebagai sesuatu yang “ngasal” saja.
Singkat cerita, menghabiskan rasa penasarannya, dia iseng menjelajah di Google, dan akhirnya menemukan sebuah link. Dia tertarik melihat gambar-gambar di sana, sehingga langsung waktunya dihabiskan untuk melihat-lihat. Ada desain kartu nama yang unik, brosur, kartu undangan dengan gambar-gambar yang menarik dan berbagai layanan yang suatu saat pasti dibutuhkan.
“Tapi mataku langsung terpikat pada cover buku. Benar pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu kalau ditangani seorang ahli, hasilnya akan sangat maksimal. Dan sebagai orang awam, aku melihat cover-cover buku contoh di sana sungguh menarik. Ya, seolah memberi kecerahan tersendiri pada pandangan mata. Sejenak melihat dan malah terus ingin memperhatikan lebih seksama,” tuturnya.
Diapun jadi penasaran menanggapinya. Sebagai seorang yang mengaku bukan ahli desain atau pengamat foto, dia melihat komposisi gambarnya sempurna. Kesannya ramai tapi menarik. Di penerbit indie itu kita ditawari mau desain covernya seperti apa. Terus kita diskusikan. Setelah beberapa lama lalu diberikan gambarnya.
“Kalau kita belum puas, kita diperbolehkan memberikan masukan. Jadi kita bisa meminta untuk menambahkan atau mengurangi sesuatu. Ada waktu revisi sampai beberapa kali tergantung layanan kelas bagaimana yang kita beli,” pungkas dia, menutup obrolan. (Bubun)











