Dengan demikian, sistem perlindungan sosial tidak hanya memiliki mekanisme menentukan siapa yang menerima, tetapi juga mekanisme menemukan siapa yang terlewat. Inilah yang menurut saya harus menjadi perhatian pemerintah.
Kemiskinan dan kerentanan bersifat dinamis. Karena itu, pemerintah dapat mengembangkan semacam Indeks Kerentanan Sosial-Ekonomi sebagai instrumen pelengkap desil. Indeks tersebut tidak dimaksudkan menggantikan DTSEN, tetapi membantu menemukan kondisi yang mungkin belum sepenuhnya tercermin dalam peringkat kesejahteraan.
Indikatornya dapat mencakup kestabilan pendapatan dan pekerjaan, jumlah anggota keluarga dan tanggungan, keberadaan lansia, penyandang disabilitas, kondisi kesehatan yang memengaruhi kemampuan ekonomi keluarga, pendidikan anak dan risiko putus sekolah, kondisi rumah, akses air minum dan sanitasi, kepemilikan aset, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan, beban pengeluaran, serta kejadian luar biasa seperti PHK, bencana, kematian pencari nafkah atau kehilangan sumber penghasilan.













