M. Rofik M.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Matahari baru saja terbit di atas langit Bonang, Demak, namun udara sudah berbau amis pasang air laut. Di teras rumahnya yang terendam air setinggi lutut, Pak Kusen (54) menatap hampa ke arah jalan desa yang perlahan melenyap ditelan rob. Tak jauh dari situ, sebuah plang megaproyek Kementerian PUPR berdiri miring, mencantumkan angka anggaran bernilai miliaran rupiah. Di atas kertas, proyek benteng pemecah gelombang dan normalisasi sungai itu menjanjikan pesisir yang kering. Namun di lapangan, beton-beton pancang justru retak sebelum selesai dikerjakan, seolah hanyut bersama harapan ribuan warga yang rumahnya tenggelam.
Ironi Demak tak berhenti di bibir pantai. Hanya beberapa kilometer dari genangan air rob, di sebuah sekolah dasar negeri, Bu Nunung (bukan nama sebenarnya) memandangi kwitansi bernominal ratusan ribu rupiah. Tulisan tangan di atas kertas murah itu bertuliskan “Sumbangan Sukarela Pembangunan Musholla dan Kenang-kenangan”. Sebagai buruh tani yang sawahnya habis tergerus erosi laut, uang ratusan ribu itu adalah jatah makan keluarganya selama dua minggu. Pungutan liar berkedok infak sukarela di SD dan SMP negeri se-Kabupaten Demak telah menjadi rahasia umum yang mencekik, memaksa para orang tua memilih antara anak putus sekolah atau perut lapar.













