Ramadhan dan Ketahanan ekonomi bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi tentang bagaimana kemampuan keluarga dan komunitas untuk: 1). Mengelola risiko. 2). Menjaga stabilitas pendapatan. 3). Mengembangkan aset produktif. 4). Membangun tabungan sosial. 5). Memutus rantai kemiskinan. Sayangnya, banyak pelaku takjil berhenti pada fase ‘bertahan’. Setelah Ramadhan, usaha kembali mati, karena modal habis dan jaringan putus, serta semangat yang kian surut. Agar takjil tidak berhenti sebagai fenomena musiman, maka diperlukan strategi antara lain : a) Digitalisasi sederhana (WA, marketplace lokal). b) Tabungan usaha pasca Ramadhan. c) Diversifikasi produk. d) Pembentukan koperasi komunitas. e) Pendampingan kampus & pemerintah. Dengan berbagai pendekatan dan strategi sederhana tersebut, maka ekonomi Ramadhan dapat menjadi fondasi ekonomi sepanjang tahun.












