Kedua. Mengusulkan mekanisme de-eskalasi permanen untuk Selat Hormuz di bawah payung OKI dan ASEAN.
Ketiga. Mempercepat diversifikasi energi agar harga minyak dunia tidak lagi menjadi sandera konflik Timur Tengah.
Itu realistis. Itu bisa dilakukan. Yang kurang hanya nyali politik.
*Penutup*
Saya tidak sedang mengancam. Itu bukan tipe seorang pensiunan jenderal. Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat dan saya rasakan dari kursi di DK PBB selama 2 tahun.
Dunia sedang melahirkan tatanan multipolar, AS menarik pasukan dari Jerman, Hormuz membara, Eropa ketakutan sendiri dan Rusia kembali menjadi aktor utama serta China tersenyum dari kejauhan.
Dan Indonesia? Kita masih duduk manis di pinggir lapangan, mencatat skor, lalu pulang tanpa berkeringat.













