Inilah perubahan besar yang sedang berlangsung.
Pertanian modern tidak lagi hanya berbicara tentang tanah dan air.
Pertanian modern juga berbicara tentang data.
Karena itu, masa depan pertanian Indonesia tidak cukup hanya ditopang oleh cangkul. Ia juga membutuhkan algoritma.
Namun kita perlu berhati-hati memahami transformasi ini. Tujuannya bukan menggantikan petani dengan teknologi. Sebaliknya, teknologi harus memperkuat kemampuan petani untuk menghadapi tantangan zaman.
Masalah terbesar kita sesungguhnya bukan kekurangan teknologi. Masalah terbesar kita adalah bagaimana memastikan teknologi tersebut benar-benar sampai ke sawah, kebun, dan ladang tempat petani bekerja.
Digitalisasi pertanian tidak boleh berhenti menjadi slogan yang indah dalam dokumen kebijakan. Ia harus hadir dalam bentuk yang nyata: penyuluhan yang berkualitas, akses informasi yang mudah, pembiayaan yang terjangkau, dan pasar yang memberikan kepastian.













