Desain pembelajarannya harus inklusif sejak awal. Semua pendidik bisa kembangkan kompetensi STEM lewat lintas disiplin,” jelasnya
.Sesi kedua, Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si. dari UPI Bandung, membahas “Integrating Islamic Astronomy into STEM Curriculum: From Falak to Physics”. Ia mencontohkan hisab-rukyat, arah kiblat, kalender Hijriah, dan tata surya bisa masuk pembelajaran Fisika-Matematika agar lebih aplikatif.
“Astronomi Islam bukan warisan sejarah saja. Waktu salat, kiblat, kalender Hijriah adalah contoh nyata STEM dalam konteks keislaman untuk kelas,” ungkapnya.
Diskusi berlangsung interaktif dan ditutup foto bersama. FTK menargetkan seminar ini jadi agenda tahunan untuk memperkuat jejaring internasional dan melahirkan guru yang menjadikan langit sebagai ruang belajar serta keberagaman sebagai kekuatan pendidikan.













