Dalam keynote, Prof. Dadan Rusmana menegaskan STEM harus kontekstual dan inklusif. “Tema COSMOS dan Classroom relevan. Mahasiswa dan dosen harus mampu menghubungkan sains modern dengan khazanah Islam, khususnya astronomi Islam. Ekosistem STEM perlu mengarusutamakan nilai inklusivitas,” ujarnya.
Wakil Dekan I FTK Dr. Irawan menambahkan, seminar ini bagian dari penguatan kurikulum FTK berbasis integrasi sains-Islam. “FTK mencetak lulusan melek teknologi sekaligus punya kesadaran kosmologi Islam. STEM tidak hanya untuk MIPA, tapi harus merambah semua prodi, termasuk keagamaan,” katanya.
Dari Framework USM hingga Falak di Kelas Fisika
Narasumber pertama, Assoc. Prof. Dr. Nor Asniza Ishak dari Universiti Sains Malaysia, memaparkan “Democratising STEM for Humanity”. Ia memperkenalkan ITS-H Framework: Input analisis persoalan sains dan agama, Collaborative STEM Inquiry integrasi STEM-kurikulum-nilai Islam-digital, dan Output kompetensi kritis, kreatif, beretika, dan berorientasi SDGs.“STEM adalah pedagogi, pola pikir, dan budaya kolaboratif.













