Cimahi, BEDAnews
Kampung Adat Cireundeu di RW 10 Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, diharapkan menjadi ikon tradisi budaya di Kota Cimahi. “Kami berharap kampung Cireundeu ini menjadi ikon budaya, karena kekhasan warganya yang mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokoknya,” kata Walikota Cimahi Atty Suharti, saat menghadiri acara seren taun di Kampung Cireundeu, Sabtu (8/12).
Menurut Atty, warga kampung Cireundeu dengan singkong sebagai makanan pokoknya sudah mampu mandiri dan tidak tergantung kepada beras, sehingga kampung ini ditetapkan pemkot Cimahi sebagai Desa Wisata Ketahanan Pangan (Dewi Tapa). ”Warga Cireundeu masih menjaga tradisi budayanya, dan mampu bertahan hingga sekarang,” paparnya.
Sementara Tokoh Kampung Adat Cireundeu, Asep Abas mengatakan, acara seren taun di Kampung adat Cireundeu dilakukan setiap tahun saat memasuki bulan Syura. Acara yang dilaksanakan ini merupakan tradisi tahunan yang digelar di Kampung Cireundeu, dengan kemandirian warganya.
Dalam pelaksanaannya, warga Cireundeu secara swadaya mempersiapkan dan menggelar acara seren taun. “Selain ada acara ritual, pada pelaksanaan seren taun, kami juga selalu menampilkan kesenian wayang golek,“ katanya.
Tradisi warga kampung Cireundeu dengan singkong sebagai makanan pokoknya sudah diakui sebagai daerah tahan pangan, sehingga tak berpengaruh terhadap keberadaan beras.
Singkong sebagai bahan makanan pokok warga selalu ditanam dan dipanen setiap saat, sehingga tak mengenal adanya kesulitan pangan. Warga yang terdiri dari 1000 jiwa, tak pernah mengalami kekurangan pangan, karena singkong selalu tersedia dan tak mengenal musim.
Malahan, kata Asep, Cireundeu merupakan daerah yang dikatakan daulat pangan oleh pemerintah. Bahkan dengan tradisi budaya yang selalu menjaga kelestarian alam, menjadikan kampung Cireundeu tetap eksis hingga generasi kelima.
Warga adat Kampung Cireundeu sangat taat dan menjaga alam sekitarnya. ”Kami diajarkan oleh leluhur untuk selalu bersahabat dengan alam, supaya lingkungan tetap lestari,” tandasnya. (Bubun)











