Ketika disinformasi disuntikkan ke dalam ruang gema ini, emosi publik meledak. Kita tak lagi menilai informasi berdasarkan kebenaran faktual, melainkan berdasarkan “siapa yang menyebarkannya”. Fenomena ini merusak social trust—rasa saling percaya antarwarga yang menjadi perekat utama sebuah bangsa. Disinformasi bekerja bak rayap: ia tidak merubuhkan panggung sosial dengan satu dentuman keras, melainkan menggerogoti tiang-tiang toleransi secara perlahan hingga struktur kerukunan ambruk dengan sendirinya.
Menghadapi ancaman ini, mengandalkan regulasi penindakan atau sekadar pemblokiran konten tentu tidak memadai. Kita membutuhkan reformasi akuntabilitas algoritma dari penyedia platform digital serta penyuntikan “vaksin kognitif” bagi masyarakat. Sebelum jempol refleks membagikan ulang sebuah pesan yang membakar emosi, ada baiknya kita menghentikan jempol sejenak dan bertanya: apakah narasi ini sedang menyampaikan kebenaran, atau justru sedang merobohkan rumah yang kita tinggali bersama?***













