Claire Wardle dan Hossein Derakhshan dalam Information Disorder: Toward an Interdisciplinary Framework for Research and Policy-making (2017: 16–22), memetakan kekacauan informasi ke dalam tiga kategori: misinformation, disinformation, dan malinformation. Disinformasi menempati posisi paling beracun karena diproduksi secara sengaja dengan niat jahat (intent to harm) untuk merekayasa konflik dan memecah belah publik.
Mengapa disinformasi begitu ampuh menggoyang stabilitas masyarakat? Jawabannya ada pada fenomena affective polarization—pembelahan emosional antar kelompok. Cass R. Sunstein dalam Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media (2017: 68–75), membedah bagaimana arsitektur platform digital menciptakan ruang gema (echo chambers). Algoritma media sosial dirancang memanjakan bias konfirmasi kita dengan memprioritaskan konten yang memicu ketakutan dan amarah demi mendongkrak engagement.













