Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pernahkah Anda melihat grup WhatsApp keluarga yang mendadak panas hanya gara-gara satu potongan video berdurasi belasan detik? Hubungan kekerabatan yang hangat bertahun-tahun bisa retak seketika saat narasi kebencian berkedok “informasi A1” melintas di layar ponsel. Di era serba algoritma ini, disinformasi bukan lagi sekadar lelucon tak lucu atau kebohongan tak sengaja. Ia telah bertransformasi menjadi senjata pemusnah massal bagi stabilitas sosial.
Kita kerap menyederhanakan masalah ini sebagai persoalan “masyarakat yang kurang literasi”. Padahal, analisis ilmiah menunjukkan akar masalahnya jauh lebih merusak: manipulasi psikologis kolektif yang terstruktur.













