“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan individu Agen Pemulihan, tetapi juga jejaringnya. Ketika BNN, pemerintah wilayah, layanan kesehatan, Bapas, aparat kewilayahan dan masyarakat dapat bergerak bersama, maka upaya pencegahan dan pemulihan akan semakin kuat,” katanya.
Di akhir sesi, Jenderal bintang satu tersebut juga menekankan bahwa, penguatan IBM menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat Jawa Tengah yang semakin tangguh terhadap ancaman penyalahgunaan narkotika.
“Setiap orang yang berhasil dicegah dari penyalahgunaan narkotika dan setiap orang yang berhasil didukung untuk pulih merupakan bagian dari upaya kita menurunkan prevalensi narkotika. Ini menjadi kontribusi nyata menuju Jawa Tengah Zero Prevalensi Narkotika 2045,” tegasnya.
Sementara itu, Katim Rehabilitasi BNNP Jawa Tengah, Sardiyanto, S.Psi., menjelaskan bahwa, Bimbingan Teknis Agen Pemulihan diberikan untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan peserta dalam menjalankan intervensi berbasis masyarakat. Agen Pemulihan tidak ditempatkan sebagai pengganti tenaga profesional. Perannya adalah menjadi bagian dari jejaring pemulihan yang membantu masyarakat mengenali persoalan, memberikan motivasi untuk pulih, serta melakukan rujukan ketika seseorang membutuhkan layanan lebih lanjut.













