Namun, reaksi negara terhadap ekspresi semacam ini seringkali kaku. Dalam banyak kasus, ekspresi budaya rakyat yang menyimpang dari norma resmi dianggap ancaman. Logika ini sejalan dengan kritik Michel Foucault (1977), yang menjelaskan bagaimana kekuasaan bekerja melalui pengawasan dan penertiban ekspresi, bukan sekadar pemenjaraan fisik. Simbol pun bisa dianggap subversif jika tidak sesuai dengan kepentingan dominan.
Apakah kibaran bendera bajak laut ini perlu ditanggapi dengan represi? Tidak selalu. Justru ini bisa dibaca sebagai alarm sosial. Dalam masyarakat demokratis, simbol-simbol alternatif seharusnya dijadikan jendela untuk memahami perasaan warga. Seperti ditulis Benedict Anderson (1991) dalam Imagined Communities, bangsa adalah konstruksi imajinatif yang dirawat lewat simbol, cerita, dan ingatan kolektif. Ketika sebagian warga merasa lebih terwakili oleh simbol One Piece, itu mencerminkan lemahnya imajinasi kebangsaan kita di mata generasi baru.













