Lantas pertanyaannya, untuk kepentingan siapa produksi BBM bioetanol dibuat? Benarkah untuk memenuhi kebutuhan rakyat? Mengingat pemerintah juga sebelumnya telah meluncurkan energi alternatif, yang sama-sama bersumber dari nabati dan diklaim ramah lingkungan yang diproduksi dari tanaman jarak. Namun kenyataannya, pabrik pengolahan minyak jarak yang dibangun oleh pemerintah daerah juga pusat justru mangkrak.
Mirisnya, yang berkembang malah pabrik biji jarak milik swasta. Minyak jarak dikemas dan diekspor ke Jerman dan Jepang.
Sementara itu, minyak jarak yang dihasilkan oleh petani dihargai amat rendah hanya Rp500/kg.
Inilah kondisi yang terjadi, saat pengurusan rakyat berdasarkan pengaturan kapitalisme sekuler. Orientasi kebijakan negara tidak pada pelayanan pemenuhan kebutuhan masyarakat, tapi lebih pada keuntungan pihak pemilik modal. Paradigma pemikiran yang dibangun dalam aturan ini hanyalah pada keuntungan materi.













