Adrian Zakhary, Direktur ART SURA, turut menyampaikan visinya ke depan. “Kami berharap ART SURA tidak hanya hadir sebagai festival tahunan, tetapi menjadi sebuah intellectual property (IP) yang hidup di tengah masyarakat. Mungkin ke depan, ART SURA akan hadir dalam bentuk ruang tetap atau muncul dalam berbagai agenda seni lainnya,” katanya.
Sebagai penutup, panggung ART SURA menampilkan pertunjukan wayang kulit kontemporer oleh Dalang Muda Ki Amar Pradopo, yang memadukan cerita klasik “Gatotkaca” dengan pendekatan visual baru. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap akar budaya yang menjadi fondasi ART SURA.
ART SURA 2025 mencatatkan lebih dari 10.000 pengunjung selama sembilan hari penyelenggaraan yang terdiri dari kalangan umum, pelajar, mahasiswa hingga anak-anak, menghadirkan lebih dari 300 karya seni dari 172 seniman mulai dari Lukisan, Patung, Art Toys, VR, AR, Art Fashion, NFT, dan AI ART, serta melibatkan komunitas, kolektif, museum, rumah budaya dan studio seni dari berbagai kota di Indonesia. Rangkaian program publik, seperti dialog seni rupa dan digital, sharing session, live painting, workshop seni anak-anak, lomba seni rupa, lomba vlog dan foto, peluncuran platform digital LAPALAPA.ART, serta kolaborasi lintas sektor seperti UMKM, Kafe dan Kriya, menjadi bukti nyata semangat inklusif dan progresif dari ART SURA.











