• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Sabtu, November 7, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home ยป Aroma Minyak Wangi dan Bau Amis Korupsi: Refleksi Sunyi Maulid di Negeri Berisik

Aroma Minyak Wangi dan Bau Amis Korupsi: Refleksi Sunyi Maulid di Negeri Berisik

Asep Budi by Asep Budi
25 Agustus 2026
in Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.

YOGYAKARTA || Bedanews.com – Wangi minyak atar melayang samar di antara kepulan asap nasi kebuli. Nampan-nampan tembaga bersinar di bawah lampu gantung serambi masjid, sementara ratusan suara berpadu melantunkan bait-bait Barzanji. Setiap tahun, malam Maulid Nabi selalu hadir dengan kehangatan yang puitis. Kita merayakan lahirnya seorang manusia agung dengan kemewahan spiritual yang riuh, penuh jamuan, dan tumpah ruahnya harapan akan barakah.

Namun, begitu selawat usai dan sandal-sepatu dipasang kembali, kita melangkah keluar menuju kenyataan yang dingin. Di luar serambi masjid yang wangi itu, Indonesia sedang merintih. Berita hari ini masih dipenuhi drama korupsi para pejabat, vonis hukum yang meliuk-liuk sesuai tebal dompet, serta kemiskinan yang merayap diam-diam di balik megahnya gedung pencakar langit. Ada jurang yang teramat menganga antara panggung ritual kita yang suci dan panggung publik kita yang kumal.

BeritaTerkait

Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat

7 November 2026

Pemuda Berdampak: Satukan Gagasan, Bangun Gerakan Menuju Deklarasi Wilayah Kota Cilegon

7 November 2026

Mengapa peringatan yang begitu kolosal setiap tahunnya seolah tak berbekas dalam tatanan moral bangsa?

Secara sosio-historis, perayaan ini sejatinya bukan sekadar seremoni sentimental. Clifford Geertz dalam The Religion of Java (Chicago Press, 1976, hlm. 125) mencatat bagaimana ritus keagamaan di Jawa menjadi perekat sosial yang memadukan simbol kesalehan dan solidaritas warga. Namun, ketika keagamaan dipisahkan dari etika publiknya, ia berisiko menjadi apa yang disebut Max Weber dalam Wirtschaft und Gesellschaft (Mohr, 1922, hlm. 182) sebagai ritualitas yang kehilangan “karisma emansipatoris”โ€”sebuah rutinitas formalitas tanpa daya ubah sosial.

Kita sering terjebak memuja figur Sang Nabi sebagai objek estetis, bukan mengadopsi etika kenabian sebagai etos peradaban. Dalam khazanah klasik, Abu Hamid Al-Ghazali lewat karya fenomenalnya Ihya’ ‘Ulum al-Din (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004, Juz 2, hlm. 45) mengingatkan bahwa tipu daya terbesar sebuah masyarakat adalah ketika mereka merasa cukup dengan ritual lahiriah (rusum), namun mengabaikan keadilan sosial (‘adl).

Kritik ini sejalan dengan amatan tajam Snouck Hurgronje dalam Het Mekkaansche Feest (E.J. Brill, 1888, hlm. 88), yang melihat bagaimana perayaan keagamaan di Nusantara kerap bergeser menjadi ruang pelarian emosional warga dari tekanan struktur politik yang opresif. Maulid pun rawan dijadikan tempat bersembunyi, bukan panggung menyalakan obor perlawanan terhadap ketidakadilan.

Padahal, sebagaimana ditegaskan Nurcholish Madjid dalam Islam Doktrin dan Peradaban (Paramadina, 1992, hlm. 120), tauhid yang sejati harus berbuah pada pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan dan kepalsuan. Nabi Muhammad tidak diutus sekadar untuk mengajari kita berselawat, melainkan untuk menegakkan keadilan, menghancurkan oligarki jahiliah, serta membela mereka yang tertindas (mustad’afin).

Merayakan Maulid di tengah carut-marut bangsa seharusnya menjadi momen “interupsi moral”. Maulid bukanlah jeda nyaman untuk melupakan penderitaan bangsa selama semalam, melainkan cermin retak yang menatap wajah kita: apakah kita sungguh mencintai Nabi, atau hanya menyukai keramaian ulang tahunnya? Jika nasi kebuli habis dimakan namun perilaku koruptif tetap melenggang gagah, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiriโ€”siapa sebenarnya yang sedang kita rayakan?***

Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).

Previous Post

Kombes Nasriadi Ungkap Jaringan Uang Palsu Lintas Jawa, 11 Tersangka Ditangkap

Next Post

Askomlek Panglima TNI Tutup Rise The Ranger 2 Cyber Competition 2026

Related Posts

Ragam

Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat

7 November 2026
Ragam

Pemuda Berdampak: Satukan Gagasan, Bangun Gerakan Menuju Deklarasi Wilayah Kota Cilegon

7 November 2026
Ragam

Ekonomi Hijau Jadi Fokus Perencanaan Pembangunan Kalimantan Utara

7 November 2026
Ragam

DR. FACHRUL RAZI: PENYADAPAN PRESIDEN PRABOWO ADALAH MAKAR

7 November 2026
Ragam

KOGANA SUMUT DAN POLITEKNIK MEDAN JALIN MoU PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KEBENCANAAN

6 November 2026
Ragam

Dugaan Menyadap Presiden Prabowo, Muslim Arbi: Listyo Sigit dan Gerombolannya Layak Dihukum Mati

6 November 2026
Next Post

Askomlek Panglima TNI Tutup Rise The Ranger 2 Cyber Competition 2026

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021