Dahulu UGM terkenal dengan Kampus Pancasila, Mochtar Lubis, Sutan Takdir? Karena kampus isinya “Pancasila + Etika + Adab”. Ada Kunto Wibisono, ada Umar Kayam dengan Mr Regennya, ada Prof Mubyarto, tokoh Ekonomi Pancasila dan banyak lagi tokoh-tokoh budaya dan saat itu budaya diskusi dengan sehat dan penuh santun dan bijak mengutamakan data penelitian, kajian-kajian ada majalah Prisma yang memberi pencerahan bagi mahasiswa di angkringan kita diskusi dengan gayeng.
Terasa sekali saat itu Jogyakarta kota budaya dan pendidikan
Sekarang kampus-kampus isinya apa? “Teori Kritis + HAM + Demokrasi Prosedural”.
Hasilnya: Mahasiswa pinter “menyalakan “, tapi nggak pinter “ngasih solusi”. Jago “membongkar “, tapi tidak bisa “membangun “. Presiden disalahkan, dihina, dibodohkan, di stigma Firaun Iblis tanpa mengukur dirinya itu siapa, ilmunya apa? Sombong merasa paling pintar, ternyata menjadi alat elit Partai, dibayar, di fasilitasi mobil Fourtuner, punya seorang Jendral dan terbongkar tetapi sudah muka badak tidak ada rasa malunya. Bahkan teman sekampusnya sudah menolak Tiyo.













