Berbeda dengan Najib dan Jokowi, Tun Mahathir Mohamad bersikap skeptis terhadap investasi asing dalam proyek infrastruktur yang dianggap bisa mengurangi kedaulatan ekonomi dan kontrol nasional. Mahathir secara tegas menentang proyek-proyek yang didominasi oleh investor luar, khususnya dari China. Saat kembali menjadi Perdana Menteri, Mahathir meninjau ulang sejumlah proyek besar yang dinilai tidak sesuai dengan kepentingan rakyat Malaysia.
*Kebijakan Pemimpin Berakhir di Penjara*
Kebijakan mantan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak, yang mengutamakan investasi asing besar-besaran, terutama dari China, memicu protes rakyat dan menjadi salah satu faktor yang mengakhiri karier politiknya. Najib Razak kini tercatat dalam sejarah kelam Malaysia sebagai pemimpin yang terlibat dalam salah satu skandal korupsi terbesar 10,5 trilyun (2015) di Asia dan menjadikannya mantan Perdana Menteri pertama Malaysia yang dipenjara 12 tahun karena kasus korupsi.













