Bukan dengan kebencian.
Bukan dengan kekerasan.
Tetapi dengan *akal sehat, keberanian, bukti, dan kesadaran kebangsaan.*
Sebab sejarah bangsa tidak boleh hanya ditulis oleh para pemenang.
Sejarah juga harus memberi ruang kepada mereka yang berani bertanya:
*Apakah kita benar-benar sedang mempertahankan kemerdekaan, atau hanya sedang mempertahankan sebuah sistem yang membuat rakyat merasa merdeka karena diberi kesempatan untuk memilih, sementara pilihan itu telah ditentukan sebelum mereka datang ke bilik suara?*
Inilah pertarungan antara *bangsawan dan “bangsat”* dalam pengertian moral-politik.
Dan pada akhirnya, sejarah akan menentukan siapa yang benar-benar berdiri untuk kepentingan bangsa dan siapa yang hanya berdiri untuk kepentingan kekuasaan.













