Fenomena ini mengingatkan kita pada konsep patronage politics yang dijelaskan oleh Edward Aspinall dan Ward Berenschot dalam Democracy for Sale: Elections, Clientelism, and the State in Indonesia (Ithaca: Cornell University Press, 2019, hlm. 145). Amplop tersebut bukan sekadar alat transaksi tunai, melainkan bentuk simpul ikatan patron-klien yang menuntut loyalitas balik dalam pemilihan formatur kepemimpinan.
Secara sosiologis, apa yang terjadi sebelum Muktamar Jombang mencerminkan keretakan etis. Martin van Bruinessen dalam karya klasiknya NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Identitas Baru (Yogyakarta: LKiS, 1994, hlm. 204) menegaskan bahwa kekuatan utama NU terletak pada kemampuannya menjaga jarak kritis dari godaan kekuasaan. Ketika amplop berisi nominal fantastis mulai berseliweran–yang diduga–berseliweran sebelum dan saat Muktamar, batas tegas antara khittah dan pragmatisme seketika kabur.













