Rasio untuk mengukur perbandingan antara biaya operasional dibandingkan
dengan pendapatan operasional (BOPO) pada posisi September 2022 juga terjadi perbaikan drastis sebesar 53 persen yoy dari 180 persen pada September 2021 menjadi 127 persen pada September 2022. “Efisiensi biaya, menekan COF (Cost of fund), penutupan 6 kantor cabang yang merugi, serta meningkatkan pendapatan bunga dan non bunga menjadi trigger perbaikan,” ia menerangkan.
Pendapatan bunga pun tumbuh signifikan sebesar 60 persen yoy dibandingkan September 2021 sebesar Rp209,8 miliar menjadi Rp336,5 miliar. Pendapatan fee base income dan pendapatan operasional lainnya meningkat 165 persen yoy dari Rp23,9 miliar menjadi Rp63,5 miliar.
Kinerja penanganan kredit bermasalah (NPL) secara yoy di september 2022 juga menunjukkan hasil yang on the right track, mengalami tren menurun. NPL net menjadi 2,5 persen dari posisi yang sama tahun lalu sebesar 4,5 persen. Sedangkan, NPL gross dari 18,24 persen menjadi 10,28 persen. Meski masih menanggung biaya yang ditangguhkan dari periode kepengurusan sebelumnya, secara bottom line berhasil menekan kerugian perseroan sebesar 13,69 persen, yakni Rp126 miliar lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang menderita kerugian Rp146 miliar. “Beban biaya yang ditangguhkan yang harus dibukukan tahun 2022 sekitar Rp130 miliar.













