Oleh: Muhammad Rofik Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Malam itu, gerimis tipis membungkus pelataran Candi Borobudur. Di tengah pendar lampu yang temaram dan megahnya stupa yang telah berdiri melintasi zaman, terdengar lantunan suara tenor Andrea Bocelli menyanyikan The Prayer. Di barisan depan, tampak seorang kiai sepuh berpeci hitam dan serban putih duduk berdampingan dengan seorang cendekiawan Muslim muda. Mata mereka tampak berkaca-kaca, hanyut dalam buaian nada yang menembus batas-batas dogma.
Di tempat terpisah, beberapa hari kemudian, suasana serupa menyelimuti JiExpo Kemayoran Jakarta. Ribuan pasang mata dari pelbagai latar belakang agama dan suku melebur menjadi satu. Tidak ada sekat politik, tidak ada pertikaian partisan. Di sanalah jargon Love, Peace, and Humanity bukan lagi sekadar slogan propaganda yang hampa, melainkan sebuah realitas yang dihirup bersama.













