Oleh: Muhammad Rofik Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Setiap kali menyusuri Jalan Raya Pantura yang membelah Demak, bau asin air laut tidak lagi membawa rasa rindang atau angin sepoi-sepoi yang menenangkan. Bau itu kini membawa kecemasan. Di Desa Sriwulan hingga Bedono, Sayung, jalanan beton yang ditinggikan berkali-kali tetap tenggelam. Rumah-rumah warga yang dulu kokoh berdiri kini hanya tersisa atapnya, menembus permukaan air pasang seperti fosil-fosil peradaban yang kalah oleh alam. Sebagaimana dicatat oleh Hendrik E. Niemeijer dalam Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII (Jakarta, 2012, hlm. 85), dinamika pesisir utara Jawa sejak era kolonial memang selalu berkelindan dengan interaksi ekologis dan mobilitas manusia, namun kehancuran pesisir hari ini jauh melampaui batas ambang alaminya.













