YOGYAKARTA || Bedanews.com – Matahari baru saja meninggi di langit Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, Kamis (10/9/2026). Jam di dinding Kantor Kalurahan Pucung tepat menunjukkan pukul 10.00 WIB ketika suasana di dalam ruangan yang tadinya penuh tawa mendadak berubah hening. Ada rasa berat yang menggantung di udara.
Hari itu menjadi penanda akhir dari sebuah perjalanan singkat namun mendalam. Sembilan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 4 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yogyakarta resmi berpamitan. Setelah berminggu-minggu membaur, belajar, dan tinggal bersama warga, masa pengabdian mereka di bumi Handayani akhirnya selesai.
Albi Yusuf, sang ketua kelompok, berdiri mewakili kawan-kawannya. Suaranya sempat bergetar saat mengucapkan terima kasih. Bagi Albi dan delapan temannya, Pucung—khususnya Padukuhan Kandri—bukan lagi sekadar tempat menjalankan tugas kampus, melainkan rumah kedua. Tempat mereka menyeduh teh hangat bersama warga di sore hari, mengajar mengaji anak-anak, hingga ikut berpeluh menyelesaikan program desa.
Di sudut ruangan, tampak sosok Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I., mengamati anak-anak asuhnya dengan senyum mengembang. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang juga Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul ini memang dikenal dekat dengan para mahasiswa. Pria yang akrab disapa Gus Rofik itu tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
“KKN itu bukan cuma soal menggugurkan kewajiban SKS atau menyelesaikan program kerja di atas kertas,” tutur Gus Rofik lembut saat menyampaikan sambutan penarikan. “Ini tentang bagaimana mencetak jejak kebaikan di hati masyarakat. Saya melihat anak-anak ini belajar menjadi bagian dari warga, bukan sekadar pendatang.”
Ungkapan itu bukan sekadar pemanis kata. Kehadiran para mahasiswa memang meninggalkan kesan mendalam bagi warga lokal. Nur Harningsih, Dukuh Kandri, memuji ketulusan para mahasiswa yang dengan cepat beradaptasi dengan ritme hidup warga desa.
“Awalnya kami kira anak-anak muda ini bakal canggung. Ternyata tidak sama sekali,” ungkap Nur Harningsih dengan mata berkaca-kaca. “Mereka mau turun ke sawah, mau srawung sama warga, dan selalu ada kalau dimintai bantuan. Rasanya baru kemarin mereka datang, kok sekarang sudah harus pulang.”
Beberapa warga Kandri yang hadir dalam acara penarikan tersebut tak mampu menahan haru. Pelukan hangat dan jabat tangan erat mengalir bergantian setelah prosesi pamitan resmi usai. Makanan khas desa dan senyum tulus warga menjadi salam perpisahan terindah yang dibawa pulang oleh Kelompok 4.
Sembilan mahasiswa itu mungkin telah mengemas pakaian dan melangkah pergi meninggalkan Kalurahan Pucung. Namun, gelak tawa di posko, jejakan kaki di jalanan tanah Kandri, dan ikatan kekeluargaan yang telah terbangun akan tetap tertinggal di sana—abadi dalam ingatan warga. (MRM/Red)













