• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Sabtu, November 7, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home ยป MEMAHAMI GAYA DAN CARA GEN-Z BELAJAR

MEMAHAMI GAYA DAN CARA GEN-Z BELAJAR

Asep Budi by Asep Budi
7 September 2026
in Edukasi, Ragam
0
Syafi'i (Dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, peminat masalah sosial kemasyarakatan dan keagamaan). (Foto Doc. Pribadi).

Syafi'i (Dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, peminat masalah sosial kemasyarakatan dan keagamaan). (Foto Doc. Pribadi).

0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Syafi’i*)

TANGSEL || Bedanews.com – Memahami Gen-Z seperti memahami perempuan (istri) dalam konteks apa yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang sangat populer dikatakan bahwa perempuan (Hawwa, nenek moyang manusia) itu diciptakan dari tulang rusuk (Adam) yang bengkok. Struktur tulang rusuk memang dibuat bengkok untuk melindungi seluruh organ tubuh yang ada di dalamnya.

Penciptaan dari tulang rusuk yang “bengkok” sama sekali tidak dimaksudkan sebagai ejekan atau celaan. Akan tetapi, ungkapan tersebut sebagai penggambaran sifat wanita yang lembut, sensitif, dan berbeda dengan laki-laki yang cenderung keras dan kaku. Oleh karena itu, jika laki-laki memperlakukannya dengan paksa dia akan “patah”.

Sebaliknya, jika dia membiarkannya maka tulang rusuk akan terus bengkok mengikuti struktur asalnya. Maka, yang diperlukan adalah membimbingnya dengan memahami karakternya.

BeritaTerkait

Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat

7 November 2026

Pemuda Berdampak: Satukan Gagasan, Bangun Gerakan Menuju Deklarasi Wilayah Kota Cilegon

7 November 2026

*Demikianlah memahami Gen-Z*

Mereka tidak dapat dipaksa agar mengikuti cara belajar Gen-X yang mandiri, tangguh, tidak mudah menyerah dan otomodidak. Mereka tidak kuat membaca berlama-lama. Mereka lebih menyukai menonton video 1 menit, infografis, podcast, atau TikTok edukasi. Mereka sangat mandiri mencari tutorial. Mereka baru bertanya kepada dosen, jika dirasa sudah tidak menemukan jawaban atas ketidaktauannya. Mereka belajar yang menurutnya memiliki nilai tambah untuk kehidupannya. Jika tidak, maka motivasinya drop.

*Gen-Z dalam Angka*

Gen-Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997 sampai dengan 2012. Mereka lahir di era internet sudah matang, smartphone, dan akses informasi cepat. Berikut tabel jumlah penduduk Indonesia berdasarkan kelompok generasi.

Dengan memperhatikan data kelompok usia di atas, dan usia mahasiswa di kisaran antara 18 – 25 tahun, maka dapat dikatakan bahwa mahasiswa (Program Diploma dan Sarjana) sekarang sepenuhnya diisi oleh Gen-Z. Boleh jadi ada mahasiswa yang berusia di atas 28 tahun (biasanya mereka yang kuliah sambil bekerja), tetapi jumlahnya tidak signifikan. Jumlah mahasiswa Indonesia (Program Diploma atau Sarjana) sebanyak 9.185.334. Kemdiktisaintek (Statistik PDDikti 2025) tidak memilah mahasiswa yang berusia 18-25 tahun atau yang melampaui 25 tahun.

Dengan memperhatikan jumlah penduduk Indonesia yang berusia 18-25 tahun sebanyak 35.500.000, maka dapat dikatakan bahwa angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia sebesar 25,87%, yang diperoleh dari hasil pembagian jumlah mahasiswa (Diploma dan Sarjana) dengan jumlah penduduk berusia 18-25 tahun. Jika mahasiswa yang berusia di atas 25 tahun dikeluarkan dari angka komulatif, maka persentase penduduk usia 18-25 tahun yang mengikuti pendidikan tinggi jumlahnya lebih kecil lagi. Inilah yang dinamakan angka partisipasi murni (APM).

*Cara Belajar Gen-Z*

Mengamati cara Gen-Z belajarโ€”terutama di ruang kuliahโ€”tampak ada dua arus besar yang sama-sama terasa: (1) perubahan media dan ritme akses informasi, dan (2) kebutuhan psikologis yang tetap berakar pada motif manusia. Jadi, yang berubah bukan โ€œotak generasiโ€, melainkan ekologi belajarnya: cara mereka mencari makna, menguji informasi, dan membangun hubungan belajar.

Dari kacamata psikologi kognitif, Gen-Z tampak mengandalkan proses belajar yang cepat, berbasis contoh, dan sering terjadi dalam format serba-multimedia. Mayer (2009) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan materi yang tepat (misalnya gambar+teks) bisa meningkatkan pemahaman, tetapi tetap mensyaratkan desain supaya tidak membebani kerja memori (cognitive system) mahasiswa. Karena itu, gaya โ€œscroll cepatโ€ bisa efektif untuk eksplorasi awal, tetapi berisiko untuk pemahaman mendalam jika dosen memberi beban informasi tanpa struktur. Kekhawatiran ini sejalan dengan Carr (2010) yang menggambarkan bagaimana kebiasaan konsumsi digital dapat menggeser perhatian dan kedalaman fokus pembacaan.

Namun, ilmu pendidikan mengingatkan kita agar tidak jatuh pada mitos โ€œdigital natives otomatis lebih pandai belajarโ€. Kirschner & De Bruyckere (2017) menegaskan bahwa stereotip generasiโ€”misalnya anggapan mereka pasti lebih baik dalam belajarโ€”sering tidak didukung bukti kuat; yang menentukan kualitas belajar tetap strategi, instruksi, dan latihan. Artinya, cara Gen-Z belajar bisa โ€œcepatโ€, tetapi tidak otomatis โ€œbenarโ€ untuk semua tujuan akademik.

Dari psikologi motivasi, Gen-Z di kampus sering merespons kuat pada otonomi, keterkaitan (relatedness), dan rasa kompeten. Teori Self-Determination menekankan bahwa motivasi intrinsik tumbuh ketika kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi, bukan sekadar karena teknologi hadir (Deci & Ryan, 1985). Maka, ketika interaksi dosen berhenti pada ceramah satu arah, energi belajar Gen-Z mudah turunโ€”bukan karena mereka โ€œberbeda biologisโ€, melainkan karena desain pengajaran gagal memberi pemantik otonomi dan umpan balik.

Secara sosial, cara Gen-Z membangun pengetahuan juga dipengaruhi budaya jejaring. Boyd (2014) menunjukkan bahwa remaja (dan pola yang berlanjut sampai mahasiswa) memaknai relasi, reputasi, dan konteks sosial dalam lingkungan online. Dalam konteks perkuliahan, ini berarti diskusi, komentar, dan umpan balik sosial dapat mempercepat keterlibatanโ€”asal diarahkan menjadi dialog akademik, bukan sekadar reaksi cepat.

Dari sisi teknologi, banyak program belajar digital meniru karakter โ€œinteraktifโ€ dan โ€œgame-likeโ€. Prensky (2001) mempopulerkan gagasan bahwa pembelajaran berbasis teknologi dapat memotivasi melalui cara penyajian yang lebih engage. Tetapi teknologi hanyalah medium; tanpa struktur pedagogis, interaktivitas bisa berubah menjadi distraksi.

*Memahami dan Membangun Makna*

Lalu bagaimana dampaknya terhadap interaksi dosenโ€“mahasiswa? Terdapat pola yang cukup konsisten: mahasiswa Gen-Z cenderung ingin makna yang segera relevan, jalur akses cepat ke sumber, dan ruang untuk menunjukkan pemahaman lewat format yang variatif. Jika dosen hanya menuntut โ€œdengar lalu catatโ€, mereka bisa tampak pasif namun sebenarnya sedang memproses secara โ€œbercabangโ€ dan mencari validasi di luar kelas. Jika dosen sebaliknya membuka dialog berbasis tujuan yang jelas, mereka cenderung lebih responsif dan berani mencoba.

Apa yang sebaiknya dilakukan dosen agar pembelajaran efektif? Pertama, buat struktur kognitif yang eksplisit: rangkum tujuan tiap sesi, petakan alur dari konsep ke contoh, dan jelaskan โ€œmengapaโ€ sebelum โ€œapaโ€. Kedua, desain materi multimedia secara sengaja agar tidak menimbulkan beban yang tidak perlu (Mayer, 2009). Ketiga, gunakan umpan balik yang cepat dan berorientasi kompetensi untuk menumbuhkan motivasi intrinsik (Deci & Ryan, 1985).

Para ahli memandang โ€œpassionโ€ Gen-Z cenderung berangkat dari kebutuhan akan makna, otonomi, dan perkembangan diri, bukan sekadar mengejar stabilitas. Twenge (2017), yang dalam mengklasifikasi Gen-Z lebih maju dua tahun dibanding dengan ahli yang lain, menjelaskan bahwa generasi iGen/Gen-Z lebih sering menilai kerja yang sesuai preferensi pribadi serta lingkungan yang mendukung kesejahteraan. Sejalan dengan itu, McCrindle (2014) menekankan bahwa Gen-Z tumbuh dengan paparan teknologi dan cenderung menuntut relevansi, kesempatan belajar, serta cara kerja yang fleksibel.

Dalam hal motivasi intrinsik, Pink (2009) menyoroti bahwa performa terbaik lahir ketika individu diberi otonomi, tujuan (purpose), dan penguasaan (mastery)โ€”komponen yang sering terbaca sebagai โ€œpassionโ€ Gen-Z dalam pilihan bidang kerja yang mereka tekuni.

Sementara itu, terhadap dunia kerja masa kini, Schwab (2016) menjelaskan bahwa revolusi industri keempat mendorong perubahan cepat lewat otomatisasi dan digitalisasi, sehingga pekerjaan semakin menuntut kompetensi adaptif serta pembelajaran berkelanjutan. Karena itu, para ahli sering menilai Gen-Z memilih bidang yang memungkinkan mereka membangun portofolio keterampilan (misalnya lewat proyek, wirausaha digital, atau karier lintas fungsi) ketimbang karier linier tunggal.

Namun, pendekatan โ€œbangun passion duluโ€ juga dikritisi oleh Newport (2012): ia menekankan bahwa keahlian dan minat biasanya tumbuh setelah seseorang konsisten berlatih dan membangun nilai kerja (โ€œinterest as a by productโ€). Dengan begitu, passion Gen-Z dipahami lebih sebagai hasil dari pengalaman dan pembentukan kompetensi dalam ekosistem kerja yang sedang berubah. Pada akhirnya, kita membersamai Gen-Z untuk membantu mengantarkan mereka menemukan nilai yang bermakna baginya, bukan untuk membawa mereka menyesuaikan dengan dunia kita. Wallahu a’lamu bi al-shawab. ***

*)Penulis adalah peminat masalah sosial kemasyarakatan dan keagamaan

Previous Post

Imigrasi Cirebon Tindak Tegas WNA Australia Overstay 62 Hari, Dideportasi dari Indonesia

Next Post

AMPD Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Cinere, Depok

Related Posts

Ragam

Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat

7 November 2026
Ragam

Pemuda Berdampak: Satukan Gagasan, Bangun Gerakan Menuju Deklarasi Wilayah Kota Cilegon

7 November 2026
Ragam

Ekonomi Hijau Jadi Fokus Perencanaan Pembangunan Kalimantan Utara

7 November 2026
Ragam

DR. FACHRUL RAZI: PENYADAPAN PRESIDEN PRABOWO ADALAH MAKAR

7 November 2026
Ragam

KOGANA SUMUT DAN POLITEKNIK MEDAN JALIN MoU PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KEBENCANAAN

6 November 2026
Ragam

Dugaan Menyadap Presiden Prabowo, Muslim Arbi: Listyo Sigit dan Gerombolannya Layak Dihukum Mati

6 November 2026
Next Post

AMPD Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Cinere, Depok

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021