Bandung, BEDAnews – Tingginya harga pakan akibat ketergantungan pada bahan baku impor masih menjadi beban berat bagi pembudidaya ikan di Jawa Barat. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat tengah mengkaji sejumlah langkah strategis untuk menekan biaya produksi, termasuk pemanfaatan maggot sebagai pakan alternatif serta potensi skema intervensi yang direncanakan mulai diuji coba pada 2027.
Kepala DKP Provinsi Jawa Barat, Rinny Cempaka, menjelaskan bahwa kenaikan nilai tukar dolar berdampak langsung terhadap lonjakan harga pakan konvensional. Kondisi ini membuat margin keuntungan pembudidaya semakin tertekan karena harga jual ikan tidak sebanding dengan peningkatan biaya produksi.
Sebagai solusi jangka panjang di sektor hulu, DKP Jabar mendorong penggunaan maggot larva Black Soldier Fly (BSF) yang diolah menjadi tepung sebagai bahan campuran pakan yang lebih ekonomis dan bernutrisi tinggi.
Selain itu, pemerintah provinsi bersama DPRD sedang mengkaji formula intervensi yang tepat, aman, serta sesuai regulasi untuk membantu pembudidaya, mirip dengan skema subsidi pupuk di sektor pertanian.
Di samping persoalan hulu, DKP Jabar juga aktif mengawal sektor hilir melalui fasilitasi pasar bagi pelaku UMKM perikanan. Melalui kegiatan bazar rutin yang melibatkan lebih dari 30 pelaku usaha serta kolaborasi lintas perangkat daerah, produk olahan lokal didorong agar semakin dikenal luas.
DKP Jabar juga menekankan pentingnya keamanan pangan dan sertifikasi produk melalui edukasi langsung kepada pelaku usaha dan pelajar, guna memastikan mutu produk tetap terjaga hingga ke tangan konsumen.













