Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Wangi minyak atar melayang samar di antara kepulan asap nasi kebuli. Nampan-nampan tembaga bersinar di bawah lampu gantung serambi masjid, sementara ratusan suara berpadu melantunkan bait-bait Barzanji. Setiap tahun, malam Maulid Nabi selalu hadir dengan kehangatan yang puitis. Kita merayakan lahirnya seorang manusia agung dengan kemewahan spiritual yang riuh, penuh jamuan, dan tumpah ruahnya harapan akan barakah.
Namun, begitu selawat usai dan sandal-sepatu dipasang kembali, kita melangkah keluar menuju kenyataan yang dingin. Di luar serambi masjid yang wangi itu, Indonesia sedang merintih. Berita hari ini masih dipenuhi drama korupsi para pejabat, vonis hukum yang meliuk-liuk sesuai tebal dompet, serta kemiskinan yang merayap diam-diam di balik megahnya gedung pencakar langit. Ada jurang yang teramat menganga antara panggung ritual kita yang suci dan panggung publik kita yang kumal.
Mengapa peringatan yang begitu kolosal setiap tahunnya seolah tak berbekas dalam tatanan moral bangsa?
Secara sosio-historis, perayaan ini sejatinya bukan sekadar seremoni sentimental. Clifford Geertz dalam The Religion of Java (Chicago Press, 1976, hlm. 125) mencatat bagaimana ritus keagamaan di Jawa menjadi perekat sosial yang memadukan simbol kesalehan dan solidaritas warga. Namun, ketika keagamaan dipisahkan dari etika publiknya, ia berisiko menjadi apa yang disebut Max Weber dalam Wirtschaft und Gesellschaft (Mohr, 1922, hlm. 182) sebagai ritualitas yang kehilangan “karisma emansipatoris”โsebuah rutinitas formalitas tanpa daya ubah sosial.
Kita sering terjebak memuja figur Sang Nabi sebagai objek estetis, bukan mengadopsi etika kenabian sebagai etos peradaban. Dalam khazanah klasik, Abu Hamid Al-Ghazali lewat karya fenomenalnya Ihya’ ‘Ulum al-Din (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004, Juz 2, hlm. 45) mengingatkan bahwa tipu daya terbesar sebuah masyarakat adalah ketika mereka merasa cukup dengan ritual lahiriah (rusum), namun mengabaikan keadilan sosial (‘adl).
Kritik ini sejalan dengan amatan tajam Snouck Hurgronje dalam Het Mekkaansche Feest (E.J. Brill, 1888, hlm. 88), yang melihat bagaimana perayaan keagamaan di Nusantara kerap bergeser menjadi ruang pelarian emosional warga dari tekanan struktur politik yang opresif. Maulid pun rawan dijadikan tempat bersembunyi, bukan panggung menyalakan obor perlawanan terhadap ketidakadilan.
Padahal, sebagaimana ditegaskan Nurcholish Madjid dalam Islam Doktrin dan Peradaban (Paramadina, 1992, hlm. 120), tauhid yang sejati harus berbuah pada pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan dan kepalsuan. Nabi Muhammad tidak diutus sekadar untuk mengajari kita berselawat, melainkan untuk menegakkan keadilan, menghancurkan oligarki jahiliah, serta membela mereka yang tertindas (mustad’afin).
Merayakan Maulid di tengah carut-marut bangsa seharusnya menjadi momen “interupsi moral”. Maulid bukanlah jeda nyaman untuk melupakan penderitaan bangsa selama semalam, melainkan cermin retak yang menatap wajah kita: apakah kita sungguh mencintai Nabi, atau hanya menyukai keramaian ulang tahunnya? Jika nasi kebuli habis dimakan namun perilaku koruptif tetap melenggang gagah, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiriโsiapa sebenarnya yang sedang kita rayakan?***
Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).













