Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Bayangkan Anda membaca surat cinta berusia sepuluh abad. Apakah Anda akan menelan mentah-mentah setiap metafora di dalamnya, atau berusaha memahami suasana hati sang penulis sewaktu menggoreskan pena?
Di panggung studi Islam, pertanyaan sederhana ini menjelma perseteruan panas antara kelompok tekstualis-dogmatis dan pegiat hermeneutika modern. Bagi kelompok pertama, teks adalah hukum mati yang tak boleh disentuh angin zaman. Sementara bagi kelompok kedua, teks adalah organisme hidup yang terus berdialog dengan realitas.
Perdebatan ini sejatinya bukan barang baru. Mari kita tengok panggung sejarah. C. Snouck Hurgronje dalam Het Gajoland en Zijne Bewoners (Batavia: Landsdrukkerij, 1903, hlm. 142) pernah mencatat betapa kaku dan literalnya masyarakat tradisional memahami doktrin agama demi merespons perubahan sosial era kolonial. Fenomena ini tercermin dalam cara pandang tekstualis yang sering kali mereduksi ayat menjadi slogan kaku tanpa ruang bernapas.













