Jakarta, Bedanews.com —
“Dasa Darma Jangan Hanya Dihafal”
— Hari Pramuka ke-65 yang jatuh pada 14 Agustus 2026 tidak boleh berhenti pada upacara dan nostalgia. Di tengah maraknya perundungan siber, provokasi digital, kekerasan jalanan, dan kerusakan lingkungan, Pramuka ditantang untuk hadir di ruang digital generasi muda.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam Wawancara Eksklusif dengan Bedanews.com, Sabtu, 15 Agustus 2026
“Hari Pramuka ke-65 menantang sekolah mengubah Dasa Darma dari hafalan menjadi akhlak digital yang menjaga sesama, lingkungan, dan masa depan Gen Z,” tegas Prof. Rusdiana.
3 Landasan Teori: Karakter, Jejaring, dan Ekologi Digital
Prof. Rusdiana membaca tantangan ini melalui tiga perspektif. Pertama, Social Learning Theory Albert Bandura yang menekankan karakter dibentuk melalui keteladanan dan pembiasaan. Kedua, Social Capital Theory Robert Putnam tentang pentingnya kepercayaan, jejaring, dan gotong royong. Ketiga, literasi digital ekologis yang menghubungkan kecakapan teknologi dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.Secara transendental, ia mengaitkannya dengan Dasa Darma pertama dan kesepuluh.













