Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Suatu pagi pada pertimbangan kurikulum beberapa tahun lalu, seorang guru agama di sebuah sekolah menengah dengan penuh semangat menerangkan pentingnya menuntut ilmu. Di papan tulis, beliau menuliskan sebuah ungkapan populer: “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.” Seluruh kelas mengangguk khidmat, meyakini kalimat indah itu adalah sabda Nabi. Padahal, jika kita menelisik kaji pustaka para ulama hadis, redaksi tersebut berstatus dhaif (lemah) bahkan dikategorikan maudhu’ (palsu) oleh sebagian kritikus hadis.
Fenomena ini bukanlah kasus tunggal. Di ruang-ruang kelas kita, materi ajar berbasis hadis kerap kali diajarkan tanpa melalui proses ‘penyaringan’ yang ketat. Kebutuhan akan bahan ajar yang praktis kerap mengabaikan aspek paling krusial dalam keilmuan Islam: validitas.













