Oleh: Mayjen TNI (Purn) Dr. (C) Fulad
JAKARTA || Bedanews.com – *Pendahuluan*
Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama, saya melihat dua wajah yang sama-sama nyata, tetapi berjalan pada arah yang berbeda.
Di satu sisi, ada para kiai yang sejak fajar menyingsing telah berada di pesantren. Mereka mengajar kitab kuning, membimbing santri, mendamaikan perselisihan masyarakat, memimpin doa bagi warga yang sedang berduka, dan memikirkan bagaimana pesantren tetap hidup di tengah berbagai keterbatasan. Mereka mengabdi tanpa sorotan kamera, tanpa fasilitas negara, bahkan sering kali tanpa kepastian kesejahteraan.
Di sisi lain, muncul kelompok elit organisasi yang lebih akrab dengan ruang-ruang kekuasaan daripada halaman pesantren. Mereka hadir dalam berbagai lobi politik, aktif membangun kedekatan dengan pusat pemerintahan, dan tidak jarang lebih sibuk membicarakan posisi strategis dibandingkan memperjuangkan kebutuhan riil warga NU di akar rumput.













