By. H. Budi Ali hidayat
(Kasie Bimas Islam Kemenag Cimahi
Penulis Buku Neo Sufi ; Regulasi Emosi & Protokol Alam Semesta)
*Tempat: Sebuah ruang batin yang sunyi.
Waktu: Setelah maksiat, menjelang malam yang sepi.
Hanya ada dua suara: nafsu yang membujuk, dan ruh yang menangis.*
NAFS:
Mengapa kau menangis, wahai ruh?
Bukankah dia sudah merasakan nikmat yang lama kau impikan?
Kenapa masih kau ratapi sentuhan yang telah terjadi?
RUH:
Karena setiap sentuhan haram adalah luka di tubuhku.
Karena kenikmatanmu hanyalah racun yang kutelan dalam diam.
Aku merintih bukan karena dia jatuh,
tapi karena dia tak mau bangkit.
NAFS:
Ah, jangan terlalu keras.
Dunia ini fana, tubuh hanya ingin bahagia sebentar.
Tuhan itu Maha Pengampun, nanti juga dimaafkan.
Nikmati dulu, taubat belakangan.













