RUH:
Dan bagaimana jika “belakangan” tak pernah datang?
Bagaimana jika ajal mencabut nyawa saat aroma maksiat masih melekat?
Apakah kau akan ikut menemaninya saat kubur menanyakan jejakmu?
NAFS:
Tapi dia lelah…
Kesepian, hampa, rindu akan cinta dan hangatnya pelukan.
Zina itu bukan nafsu semata — itu pelarian dari luka.
RUH:
Luka tidak akan sembuh jika disiram dosa.
Pelarian dari sepi hanya menjerumuskannya ke gelap yang lebih dalam.
Cinta tidak lahir dari syahwat,
Cinta lahir saat ia kembali memeluk Tuhan.
NAFS:
Kau begitu suci, ruh… Tapi dunia ini penuh goda.
Tak semua orang mampu hidup sepertimu.
Bukankah Tuhan menciptakan syahwat juga?
RUH :
Ya, tapi juga menciptakan kehormatan.
Ia diberi pilihan: menjadi pecandu tubuh, atau penempuh jalan pulang.
Dan aku menangis… karena dia lupa rumahnya adalah cahaya.













