Di balik hiruk-pikuk industri dan derasnya arus modernisasi di Sidoarjo, lahirlah sebuah gerakan dari hati nurani, yang tidak banyak disorot—tentang kepemimpinan yang tumbuh dari ketulusan, bukan sekadar jabatan.
Masyarakat sidoarjo mulai menyebut satu nama dengan cara yang berbeda, lebih dekat, lebih hangat: “Mbok’e Sidoarjo.” nama itu saat ini digaungkan masyarakat pada Sosok seorang ibu bernama Mimik Idayana, Wakil Bupati yang diam-diam membangun kekuatan dari hal yang paling mendasar—rasa memiliki dan kepedulian.
Tidak banyak yang tahu, di sela agenda resmi dan rapat pemerintahan yang super sibuknya, ia memilih turun ke lapangan sendiri tanpa sorotan. Mengunjungi rumah-rumah warga tanpa protokoler ketat, duduk di teras sederhana lesehan, mendengar cerita keluh kesah warga tanpa batas waktu. Ia tidak selalu datang membawa solusi instan, tetapi ia membawa sesuatu yang lebih langka: kehadiran pemimpin sidoarjo yang tulus untuk merangkul masyarakat di tengah polemik semua masalahnya.













