Oleh: Sugiyanto (SGY)-Emik (Ketua Masyarakat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR)
JAKARTA || Bedanews.com – Pesan utama dari artikel ini sederhana: kedaulatan ada di tangan rakyat. Pepatah “suara rakyat adalah suara Tuhan” menegaskan bahwa kekuatan sejati dalam sebuah negara terletak pada rakyatnya. Sekuat apa pun seorang pemimpin atau pejabat berkuasa, kekuasaan itu akan menjadi kecil ketika berhadapan dengan kehendak rakyat.
Kekuatan rakyat, apabila lahir secara alamiah dan murni dari aspirasi kolektif, biasanya membawa dampak positif bagi bangsa. Namun, jika kekuatan ini dimanfaatkan oleh kepentingan kelompok tertentu, ia bisa berubah menjadi ancaman yang merugikan banyak pihak, termasuk rakyat itu sendiri.
Sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan menunjukkan betapa rapuhnya kekuasaan yang arogan di hadapan gelombang rakyat. Aksi Tritura tahun 1966—yang menuntut pembubaran PKI, perombakan kabinet, dan penurunan harga—menjadi momentum besar yang mengubah arah perjalanan bangsa. Dari gerakan mahasiswa saat itu lahirlah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang membuka jalan bagi lahirnya pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto.













