Bandung, BEDAnews
Jangan ditanyakan upaya pemerintah dalam melindungi seni dan kebudayaan, karena pemerintah terlalu sibuk dengan persoalan yang terlalu besar. Justru bagaimana sekarang, antara paguron-paguron melalui IPSI, PPSI dan KONI merumuskan sebuah bentuk upaya pelestarian budaya.
“Bentuk pelestarian budaya itu bukan dengan cara memperbanyak paguron, karena saya sendiri sebagai orang paguron, puluhan tahun melatih orang tetap saja nanti setelah SD, SMA dia tinggalkan,” demikian diucapkan Wagub Jabar Dede Yusuf kepada Bedanews.com usai bersilaturahmi dengan perguruan pecak silat Gajah Putih se-Jabar di halaman Monumen Perjuangan Bandung, Rabu, (18/7).
Harus ada wadah tempat mereka akhirnya akan menunjukkan dirinya, ujar wagub. “Tadi saya baru mengusulkan kepada teman-teman, kenapa sih kita tidak bikin saja yang namanya festival Silat Jawa Barat secara rutin setiap tahun. Disana akan berkumpul seluruh pesilat-pesilat, jawara-jawara dan pagoron-paguron. Lalu disitu ada unjuk padungdung, unjuk kabisa, ada ibunya dan ada macam-macam. Karena di dunia-dunia lain juga dilakukan hal seperti itu,” katanya.
Dari situlah lanjut Dede Yusuf, mereka sepanjang tahun akan melatih dirinya untuk tetap tampil setiap tahunnya. Yang sifatnya kejurnas silat, Kejurda dan sebagainya itu menurut wagub, biasanya lokalan.
Tapi ketika pemerintah membuat semacam festival silat, yang hadir itu pasti nanti dari Malaysia, Belanda dan dari mana-mana. “Inilah yang saya harapkan, pemerintah ini berpikir silat ini sebagai sektor budaya dan pariwisata,” katanya.
Jika kita sekarang melihat di Singapura, Belanda, Amerika dan negara-negara lainnya, yang menjadi guru besar – guru besarnya sudah orang luar. “Melihat itu saya pikir, Ya Allah apa yang kurang dengan kita, ternyata cuma satu yang kurang, kemasan…packaging…! Kemasan kita dari dulu itu-itu saja…,” ungkap Wagub.
Sementara mereka diluar sudah melakukan kemasan-kemasan yang membuat orang menjadi datang berlatih, pemahaman-pemahaman tentang spiritual buat mereka disana sesuatu yang luar biasa, padahal di kita hal yang biasa.
Tapi memang disini perlu pemikir yang tahan akan hal ini. Kalau hanya diserahkan ke Kadisorda atau kadisbudpar saja, ya jadinya hanya…kegiatan saja… Kira-kira begitu, ujar Dede. (hermanto)











