KAB. BANDUNG — Mengembalikan jati diri seni dan budaya Sunda memang membutuhkan perjuangan ditengah maraknya budaya luar yang secara tak langsung telah mengkontaminasi warisan leluhur. Karena sebagian “Masyarakat Sunda geus teu Nyunda” (sudah tidak seperti orang Sunda).
Beberapa tokoh pelaku Seni dan Budaya Sunda, sangat mengkwatirkan kondisi itu, alasannya masyarakat lebih dominan menggunakan bahasa nasional ketimbang bahasa daerahnya. Alasannya, karena bahasa Sunda banyak kosa kata yang tidak dimengerti.
Dengan alasan itu, sebagian masyarakat mengajarkan bahasa nasional kepada anak-anaknya, sehingga bila ditanya atau berbicara terjadi campur aduk bahasa membuat orang yang mendengarnya tersenyum geli.
Bahkan menurut salah satu Pupuhu (Pimpinan) Padepokan, Apih Jalil, itu sudah membuktikan kalau masyarakat Sunda sudah lupa bagaimana mempergunakan budaya dan bahasanya sendiri. Padahal kebanyakan dari masyarakat tersebut berasal dari pelosok dan desa, tapi memaksakan diri kepada anaknya berbahasa nasional.













